Pendahuluan
Keragaman budaya atau “cultural diversity” adalah keniscayaan yang ada di bumi Indonesia. Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok sukubangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok sukubangsa yang ada didaerah tersebut. Dengan jumlah penduduk 200 juta orang dimana mereka tinggal tersebar dipulau- pulau di Indonesia. Mereka juga mendiami dalam wilayah dengan kondisi geografis yang bervariasi. Mulai dari pegunungan, tepian hutan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga perkotaan. Hal ini juga berkaitan dengan tingkat peradaban kelompok-kelompok sukubangsa dan masyarakat di Indonesia yang berbeda. Pertemuan-pertemuan dengan kebudayaan luar juga mempengaruhi proses asimilasi kebudayaan yang ada di Indonesia sehingga menambah ragamnya jenis kebudayaan yang ada di Indonesia. Kemudian juga berkembang dan meluasnya agama-agama besar di Indonesia turut mendukung perkembangan kebudayaan Indonesia sehingga memcerminkan kebudayaan agama tertentu. Bisa dikatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat keaneragaman budaya atau tingkat heterogenitasnya yang tinggi. Tidak saja keanekaragaman budaya kelompok sukubangsa namun juga keanekaragaman budaya dalam konteks peradaban, tradsional hingga ke modern, dan kewilayahan.
Dengan keanekaragaman kebudayaannya Indonesia dapat dikatakan mempunyai keunggulan dibandingkan dengan negara lainnya. Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi. Dan tak kalah pentingnya, secara sosial budaya dan politik masyarakat Indonesia mempunyai jalinan sejarah dinamika interaksi antar kebudayaan yang dirangkai sejak dulu. Interaksi antar kebudayaan dijalin tidak hanya meliputi antar kelompok sukubangsa yang berbeda, namun juga meliputi antar peradaban yang ada di dunia. Labuhnya kapal-kapal Portugis di Banten pada abad pertengahan misalnya telah membuka diri Indonesia pada lingkup pergaulan dunia internasional pada saat itu. Hubungan antar pedagang gujarat dan pesisir jawa juga memberikan arti yang penting dalam membangun interaksi antar peradaban yang ada di Indonesia. Singgungan-singgungan peradaban ini pada dasarnya telah membangun daya elasitas bangsa Indonesia dalam berinteraksi dengan perbedaan. Disisi yang lain bangsa Indonesia juga mampu menelisik dan mengembangkan budaya lokal ditengah-tengah singgungan antar peradaban itu.
UNSUR-UNSUR
KEBUDAYAAN
Menurut
Melville J. Herskovits
1.
Alat-alat teknologi
2.
Sistem ekonomi
3.
Keluarga
4.
Kekuasaan politik
Menurut
Bronislaw Malinowski
1.
Sistem norma yang memungkinkan kerjasama antara anggota masyarakat
2.
Organisasi ekonomi
3.
Alat-alat dan lembaga atau petugas pendidikan seperti keluarga
4.
Organisasi kekuatan (politik)
Menurut
Clyde Kluckhohn
1.
Peralatan dan perlengkapan hidup manusia
2.
Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi
3.
Sistem kemasyarakatan
4.
Bahasa
5.
Kesenian
6.
Sistem pengetahuan
7.
Sistem kepercayaan (religi)
1. Peralatan dan Perlengkapan Hidup
Peralatan
dan perlengkapatan hidup berkaitan dengan benda-benda yang dipakai manusia
untuk memenuhi segala kebutuhan.
Antara
lain:
·
Alat produksi
·
Senjata
·
Wadah/ alat/ piranti
·
Makanan dan minuman
·
Pakaian dan perhiasan
·
Tempat berlindung dan perumahan
·
Alat transportasi
2. Sistem Mata Pencaharian Hidup
·
Berburu dan meramu
·
Beternak
·
Bertani
·
Menangkap ikan
·
Berdagang
·
Dll.
3.
Sistem Kemasyarakatan
- Sistem kekerabatan
§
Keluarga ambilineal kecil (±25-30 orang)
§
Keluarga ambilineal besar (beberapa generasi yang turun temurun dengan jumlah
warganya mencapai ratusan orang)
§
Klen (clan) kecil (suatu bentuk kelompok kekerabatan di mana satu dengan
lainnya terikat melalui garis-garis keturunan laki-laki/ perempuan saja)
§
Klen (clan) besar (semua keturunan seorang nenek moyang baik laki-laki/
perempuan)
§
Fratri (kelompok-kelompok kekerabatan yang patrilineal/ matrilineal, sifatnya
lokal dan merupakan gabungan dari kelompok klen setempat baik besar/ kecil)
§
Paroh masyarakat (moeity) (kelompok kekerabatan gabungan klen seperti fratri
tetapi selalu merupakan separoh dari suatu masyarakat.
- Organisasi sosial, bidang-bidangnya a.l:
§
Pendidikan
§
Kesejahteraan sosial
§
Kesehatan
§
Keadilan
4.
Bahasa
Fungsi
bahasa secara umum:
§ Alat berekspresi
§ Alat komunikasi
§ Alat untuk mengadakan integrasi
dan adaptasi sosial
Fungsi
bahasa secara khusus:
§ Mengadakan hubungan dalam pergaulan
sehari-hari (fungsi praktis)
§ Mewujudkan seni (fungsi
artistik)
§ Mempelajari naskah-naskah kuno
(fungsi filosofis)
§ Usaha mengekploitasi ilmu
pengetahuan dan teknologi
5.
Kesenian (nilai keindahan/ estetika)
Ada
2 (dua) lapangan besar kesenian dilihat dari sudut cara kesenian sebagai
ekspresi hasrat manusia menikmati keindahan:
§ Seni rupa (kesenian yang
dinikmati oleh manusia dengan mata (visual)
§ Seni suara (kesenian yang
dinikmati oleh manusia dengan telinga/ di dengar)
6.
Sistem ilmu dan pengetahuan
Pengetahuan
dimiliki oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengetahuan melalui
pengalaman, intuisi, wahyu, logika atau percobaan-percobaan (trial and error)
Sistem
pengetahuan masyarakat secara umum dikelompokkan atas:
§ Pengetahuan tentang alam
§ Pengetahuan tentang
tumbuh-tumbuhan dan hewan
§ Pengetahuan tentang tubuh
manusia
§ Pengetahuan tentang sifat dan
tingkah laku sesama manusia
§ Pengetahuan tentang ruang dan
waktu
7.
Sistem kepercayaan (religi)
Sistem
kepercayaan berkaitan dengan keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari
sistem jagad raya ini yang mengatur segala sesuatunya. Keyakinan ini kemudian
diformulasikan dalam serangkaian tata nilai atau norma, perilaku dan tata cara
berhubungan dengan penguasa tertinggi.
Macam-macam
budaya lokal di Indonesia
Budaya
lokal adalah budaya yang dimiliki oleh masyarakat yang berdiam di dalam suatu
kesatuan wilayah. Menurut Koentjoroningrat budaya lokal Indonesia banyak
dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, Buddha, Islam dan Eropa.
1.
Kebudayaan masyarakat batak
Yang
termasuk ke dalam kebudayaan masyarakat Batak adalah mereka yang yang berdiam
di sekitar wilayah pegunungan Sumatra Utara, mulai dari perbatasan Aceh di
utara sampai perbatasan dengan Riau dan Sumatra Barat di sebelaha selatan.
Orang Batak mendiami Dataran Tinggi Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu, Serdang
Hulu, Simalungun, Dairi, Toba, Humbang, Silindung, Angkola, Mandailing dan
Tapanuli Tengah.
Kelompok
kekerabatan yang besar disebut Merga (Karo) atau Marga (Toba). Orang Batak
hidup dalam satu kesatuan yang disebut Huta (Toba) atau Kesain (Karo) yang
dikelilingi oleh parit. Orang Batak hidup dalam rumah disebut Ruma (Toba), Jabu
(Karo) yang dihuni oleh beberapa keluarga yang satu sama lain terikat oleh
hubungan kekerabatan secara patrilineal. Orang Batak mayoritas bermata
pencaharian bercocok tanam padi di sawah dan ladang.
Dalam
kunjungannya pada tahun 1292, Marco Polo melaporkan bahwa masyarakat Batak
sebagai orang-orang "liar yang musyrik" dan tidak pernah terpengaruh
oleh agama-agama dari luar. Meskipun Ibn Bttuta, mengunjungi Sumatera Utara
pada tahun 1345 dan mengislamkan Sultan Al-Malik Al-Dhahir, masyarakat Batak
tidak pernah mengenal Islam sebelum disebarkan oleh pedagang Minangkabau.
Bersamaan dengan usaha dagangnya, banyak pedagang Minangkabau yang melakukan
kawin-mawin dengan perempuan Batak. Hal ini secara perlahan telah meningkatakan
pemeluk Islam di tengah-tengah masyarakat Batak. Pada masa Perang Paderi di
awal abad ke-19, pasukan Minangkabau menyerang tanah Batak dan melakukan
pengislaman besar-besaran atas masyarakat Mandailing dan Angkola. Namun
penyerangan Paderi atas wilayah Toba, tidak dapat mengislamkan masyarakat
tersebut, yang pada akhirnya mereka menganut agama Protestan. Kerajaan Aceh di
utara, juga banyak berperan dalam mengislamkan masyarakat Karo, Pakpak, dan
Dairi.
Pada
tahun 1824, dua misionaris Baptist asal Inggris, Richard Burton dan Nathaniel
Ward berjalan kaki dari Sibolga menuju pedalaman Batak. Setelah tiga hari berjalan,
mereka sampai di dataran tinggi Silindung dan menetap selama dua minggu di
pedalaman. Dari penjelajahan ini, mereka melakukan observasi dan pengamatan
langsung atas kehidupan masyarakat Batak. Pada tahun 1834, kegiatan ini diikuti
oleh Henry Lyman dan Samuel Munson dari Dewan Komisaris Amerika untuk Misi Luar
Negeri.
Pada
tahun 1850, Dewan Injil Belanda menugaskan Herman Neubronner van der Tuuk untuk
menerbitkan buku tata bahasa dan kamus bahasa Batak - Belanda. Hal ini
bertujuan untuk memudahkan misi-misi kelompok Kristen Belanda dan Jerman
berbicara dengan masyarakat Toba dan Simalungun yang menjadi sasaran
pengkristenan mereka.
Misionaris
pertama asal Jerman tiba di lembah sekitar Danau Toba pada tahun 1861, dan
sebuah misi pengkristenan dijalankan pada tahun 1881 oleh Dr. Ludwig Ingwer
Nommensen. Kitab Perjanjian Baru untuk pertama kalinya diterjemahkan ke bahasa
Batak Toba oleh Nommensen pada tahun 1869 dan penerjemahan Kitab Perjanjian
Lama diselesaikan oleh P. H. Johannsen pada tahun 1891. Teks terjemahan
tersebut dicetak dalam huruf latin di Medan pada tahun 1893. Menurut H. O.
Voorma, terjemahan ini tidak mudah dibaca, agak kaku, dan terdengar aneh dalam
bahasa Batak.
Masyarakat
Toba dan Karo menyerap agama Nasrani dengan cepat, dan pada awal abad ke-20
telah menjadikan Kristen sebagai identitas budaya. Pada masa ini merupakan
periode kebangkitan kolonialisme Hindia-Belanda, dimana banyak orang Batak
sudah tidak melakukan perlawanan lagi dengan pemerintahan kolonial. Perlawanan
secara gerilya yang dilakukan oleh orang-orang Batak Toba berakhir pada tahun
1907, setelah pemimpin kharismatik mereka, Sisingamangaraja XII wafat.
2.
Kebudayaan masyarakat Minangkabau
Daerah asal kebudayaan Minangkabau seluas provinsi
Sumatra Barat, tersebar juga di beberapa tempat di Sumatra dan juga Malaya.
Adat
dan budaya Minangkabau bercorakkan keibuan (matrilineal), dimana pihak
perempuan bertindak sebagai pewaris harta pusaka dan kekerabatan. Menurut tambo
sistem adat Minangkabau pertama kali dicetuskan oleh dua orang bersaudara,
Datuk Perpatih Nan Sebatang dan Datuk Ketumanggungan. Datuk Perpatih mewariskan
sistem adat Bodi Caniago yang demokratis, sedangkan Datuk Ketumanggungan
mewariskan sistem adat Koto Piliang yang aristokratis. Dalam perjalanannya, dua
sistem adat yang dikenal dengan kelarasan ini saling isi mengisi dan membentuk
sistem masyarakat Minangkabau.
Secara
sederhana masyarakat Minangkabau terbagi ke dalam tiga lapisan besar, yaitu:
§ Bangsawan, keluarga yang
mula-mula datang
§ Orang biasa, keluarga yang
datang kemudian
§ Orang yang paling rendah,
keluarga yang menumpang pada yang lebih dulu datang
Dalam
masyarakat Minangkabau, ada tiga pilar yang membangun dan menjaga keutuhan
budaya serta adat istiadat. Mereka adalah alim ulama, cerdik pandai, dan ninik
mamak, yang dikenal dengan istilah Tali nan Tigo Sapilin. Ketiganya saling
melengkapi dan bahu membahu dalam posisi yang sama tingginya. Dalam masyarakat
Minangkabau yang demokratis dan egaliter, semua urusan masyarakat
dimusyawarahkan oleh ketiga unsur itu secara mufakat.
Daerah
Minangkabau terdiri atas banyak nagari. Nagari ini merupakan daerah otonom
dengan kekuasaan tertinggi di Minangkabau. Tidak ada kekuasaan sosial dan
politik lainnya yang dapat mencampuri adat di sebuah nagari. Nagari yang
berbeda akan mungkin sekali mempunyai tipikal adat yang berbeda. Tiap nagari
dipimpin oleh sebuah dewan yang terdiri dari pemimpin suku dari semua suku yang
ada di nagari tersebut. Dewan ini disebut dengan Kerapatan Adat Nagari (KAN).
Dari hasil musyawarah dan mufakat dalam dewan inilah sebuah keputusan dan
peraturan yang mengikat untuk nagari itu dihasilkan.
Sejarah
merantau pada etnis Minang telah berlangsung cukup lama. Sejarah mencatat
migrasi pertama terjadi pada abad ke-7, dimana banyak pedagang-pedagang emas
yang berasal dari pedalaman Minangkabau melakukan perdagangan di muara Jambi,
dan terlibat dalam pembentukan Kerajaan Malayu. Migrasi besar-besaran terjadi
pada abad ke-14, dimana banyak keluarga Minang yang berpindah ke pesisir timur
Sumatera. Mereka mendirikan koloni-koloni dagang di Batubara, Pelalawan, hingga
melintasi selat ke Penang dan Negeri Sembilan, Malaysia. Bersamaan dengan
gelombang migrasi ke arah timur, juga terjadi perpindahan masyarakat Minang ke
pesisir barat Sumatera. Di sepanjang pesisir ini perantau Minang banyak
bermukim di Meulaboh, Aceh tempat keturunan Minang dikenal dengan sebutan Aneuk
Jamee, Barus, hingga Bengkulu. Setelah Kesultanan Malaka jatuh ke tangan
Portugis pada tahun 1511, banyak keluarga Minangkabau yang berpindah ke
Sulawesi Selatan. Mereka menjadi pendukung kerajaan Gowa, sebagai pedagang dan
administratur kerajaan. Datuk Makotta bersama istrinya Tuan Sitti, sebagai
cikal bakal keluarga Minangkabau di Sulawesi. Gelombang migrasi berikutnya
terjadi pada abad ke-18, yaitu ketika Minangkabau mendapatkan hak istimewa
untuk mendiami kawasan Kerajaan Siak.
Orang
Minangkabau boleh dikatakan tidak mengenal unsur-unsur kepercayaan lain kecuali
apa yang diajarkan dalam Islam. Walaupun demikian, muncul juga kepercayaan yang
tidak diajarkan dalam Islam. Misal, mereka percaya pada hantu yang mendatangkan
bencana dan penyakit pada manusia, untuk menolaknya mereka akan datang pada
seorang dukun untuk meminta pertolongan.
3.
Kebudayaan masyarakat Bali
Ada
dua bentuk masyarakat di Bali, yaitu masyarakat Bali Aga yang kurang mendapat
pengaruh dari kebudayaan Jawa-Hindu dari Majapahit (Sembiran, Cempaga Sidatapa,
Pedawa, Tigauasa di Buleleng dan Desa Tenganan Pegrigsingan di Karangasem) dan
Bali Majapahit yang merupakan mayoritas di Bali.
Musik
tradisional Bali memiliki kesamaan dengan musik tradisional di banyak daerah
lainnya di Indonesia, misalnya dalam penggunaan gamelan dan
berbagai alat musik tabuh lainnya. Meskipun demikian, terdapat
kekhasan dalam tehnik memainkan dan gubahannya, misalnya dalam
bentuk kecak, yaitu sebentuk nyanyian yang konon menirukan suara kera.
Seni
tari Bali pada umumnya dapat dikatagorikan menjadi tiga kelompok;
yaitu wali atau seni tari pertunjukan sakral, bebali atau
seni tari pertunjukan untuk upacara dan juga untuk pengunjung,
dan balih-balihan atau seni tari untuk hiburan pengunjung.
Rumah
Bali yang sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali
(bagian Weda yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan, layaknya
Feng Shui dalam Budaya China).
Menurut
filosofi masyarakat Bali, kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila
terwujudnya hubungan yang harmonis antara aspek pawongan, palemahan, dan
parahyangan. Untuk itu, pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspek-aspek
tersebut atau yang biasa disebut ‘’Tri Hita Karana’’. Pawongan merupakan para
penghuni rumah. Palemahan berarti harus ada hubungan yang baik antara penghuni
rumah dan lingkungannya.
Mata
pencaharian pokok orang Bali adalah bercocok tanam, hanya 30% yang hidup dari
beternak, dagang, buruh, pegawai dan lainnya. Di Bali berkembang suatu sistem
untuk mengatur pengairan dan penanaman sawah yang dinamakan subak.
Sistem
kekerabatan yang mengikat masyarakat Bali adalah patrilineal.
4.
Kebudayaan Masyarakat Aceh
Aceh merupakan
salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki aneka ragam budaya yang menarik
khususnya dalam bentuk tarian, kerajinan dan perayaan. Di Provinsi Aceh terdapat
empat suku utama yaitu:
Suku
Aceh merupakan kelompok mayoritas yang mendiami kawasan pesisir Aceh. Orang
Aceh yang mendiami kawasan Aceh Barat dan Aceh
Selatan terdapat sedikit perbedaan kultural yang nampak nya banyak
dipengaruhi oleh gaya kebudayaan Minangkabau. Hal ini mungkin karena nenek
moyang mereka yang pernah bertugas diwilayah itu ketika berada di bawah
protektorat kerajaan Aceh tempo dulu dan mereka berasimilasi dengan penduduk
disana.
Suku
Gayo dan Alas merupakan suku minoritas yang mendiami dataran tinggi di
kawasan Aceh Tengah dan Aceh Tenggara. Kedua suku ini juga
bersifat patriakhat dan pemeluk agama Islam yang kuat.
Setiap
suku tersebut memiliki kekhasan tersendiri seperti bahasa, sastra, nyanyian,
arian, musik dan adat istiadat.
Kebudayaan
Aceh sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Tarian, kerajinan, ragam hias,
adat istiadat, dan lain-lain semuanya berakar pada nilai-nilai keislaman.
Contoh ragam hias Aceh misalnya, banyak mengambil bentuk tumbuhan seperti
batang, daun, dan bunga atau bentuk obyek alam seperti awan, bulan, bintang,
ombak, dan lain sebagainya. Hal ini karena menurut ajaran Islam tidak
dibenarkan menampilkan bentuk manusia atau binatang sebagai ragam hias.
Aceh
sangat lama terlibat perang dan memberikan dampak amat buruk bagi keberadaan
kebudayaannya. Banyak bagian kebudayaan yang telah dilupakan dan benda-benda
kerajinan yang bermutu tinggi jadi berkurang atau hilang.
Dampak
Masuknya Budaya Asing dan Hubungan Antarbudaya
Dampak
positif
§
Adanya alih teknologi
§
Kemudahan untuk mendapatkan informasi
§
Kebiasaan berkompetisi
Dampak
negatif
§
Sikap individualistis
§
Mengabaikan nilai-nilai kekeluargaan
§
Konsumerisme terhadap produk-produk luar negeri
Hubungan
antarbudaya
§
Akulturasi
Akulturasi
dapat terjadi apabila dua kebudayaan yang bertemu kemudian berpadu dan
menghasilkan suatu kebudayaan baru, namun tidak menghilangkan unsur-unsur
kebudayaan asli.
Contohnya,
bangunan masjid Demak yang merupakan hasil akulturasi budaya Jawa dengan budaya
Islam.
§
Asimilasi
Serupa
dengan akulturasi, asimilasi merupakan perpaduan dua budaya yang menghasilkan
kebudayaan baru. Yang membedakan adalah pada asimilasi, budaya setempat/ asli
biasanya perlahan-lahan hilang dan digantikan dengan budaya baru yang timbul.
Contohnya,
gaya berpakaian wanita Indonesia yang tadinya berbusana tradisional tergantikan
dengan pakaian modern pengaruh dari Barat.
§
Sintesis
Sintesis
bisa terjadi apabila hasil perpaduan dua kebudayaan malah menghasilkan satu
kebudayaan baru yang berbeda dengan dua budaya sebelumnya.
Contohnya,
musik rock n roll yang dihasilkan dari perpaduan musik blues dengan musik
country.
§
Penetrasi
Penetrasi
adalah masuknya suatu kebudayaan dengan cara paksa atau kekerasan. Biasanya ini
berkaitan erat dengan kolonialisme. Negara penjajah memasukkan budaya mereka
pada negara jajahan dengan cara paksa.
Contohnya,
pada zaman tanam paksa, masyarakat Indonesia dipaksa menanam komoditas yang
laku di pasarana Eropa walau mereka tidak memiliki pengetahuan yang cukup akan
hal itu.
Faktor-faktor
Penyebab Keberagaman Budaya
Masyarakat Indonesia
terdiri dari ratusan suku bangsa yang tersebar di lebih dari 13 ribu pulau.
Setiap suku bangsa memiliki identitas sosial, politik, dan budaya yang
berbeda-beda, seperti bahasa yang berbeda, adat istiadat serta tradisi, sistem
kepercayaan, dan sebagainya.
Ciri keragaman
kebudayaan lokal di Indonesia dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut:
1. Keragaman
suku bangsa
Dari ilmu antropologi
diketahui bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan, Cina Selatan.
Antara tahun 3.000 –
500 SM Indonesia telah dihuni oleh penduduk migran submongoloid dari Asia yang
kemudian bercampur dengan penduduk indigenous/ pribumi dan indo-arian dari Asia
Selatan.
Klasifikasi suku di
Indonesia menurut Van Vollenhoven yang membagi Indonesia ke dalam 19 daerah
suku bangsan, yaitu:
1)
Aceh
2)
Gayo-alas dan Batak
Nias dan Batu
3)
Minangkabau
Mentawai
4)
Sumatra Selatan
5)
Melayu
6)
Bangka dan Belitung
7)
Kalimantan
8)
Minahasa
Sangir-Talaud
9)
Gorontalo
10)
Toraja
11)
Sulawesi Selatan
12)
Ternate
13)
Ambon
Kepulauan Barat Daya
14)
Irian
15)
Timor
16)
Bali dan Lombok
17)
Jawa Tengah dan Jawa Timur
18)
Surakarta dan Yogyakarta
19)
Jawa Barat
2. Keberagaman
bahasa
Indonesia termasuk
dalam rumpun bahasa Austronesia (Australia-Asia). Gorys Keraf membagi rumpun
bahasa ini ke dalam subrumpun:
1)
Bahasa-bahasa Austronesia Barat atau Bahasa-bahasa Indonesia/ Melayu yang
meliputi:
§ Bahasa-bahasa
Hesperonesia (Indonesia Barat) yang meliputi: bahasa Minahasa, Aceh, gayo,
Batak, Minangkabau, Melayu, Melayu Tengah, Lampung, Nias, Mentawai, Jawa,
Sunda, Madura, Dayak, Bali Sasak, Gorontalo, Toraja, Bugis-Makasar, Bima,
Manggarai, Sumba, Sabu.
§ Bahasa-bahasa
Indonesia Timur yang meliputi: bahasa Timor-Ambon, Sula Bacan, Halmahera
Selatan-Irian Barat.
2)
Bahasa-bahasa Austronesia Timur atau Polinesia yang meliputi:
§ Bahasa-bahasa
Melanesia (Melanesia dan Pantai Timur Irian)
Melanesia (dari bahasa Yunani "pulau
hitam") adalah sebuah wilayah yang memanjang dari Pasifik barat
sampai ke Laut Arafura, utara dan timur laut Australia.
§ Bahasa-bahasa
Heonesia (Bahasa Polinesia dan Mokronesia)
3. Keberagaman
religi
Indonesia memiliki
keberagaman agama atau kepercayaan. Di Indonesia terdapat enam agama yang
diakui secara resmi oleh negara yaitu: Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha
dan Konghucu. Selain itu berkembang pula kepercayaan-kepercayaan lain di
massyarakat.
4. Keberagaman
seni dan budaya
Suku bangsa yang
beragam di Indonesia tentu menghasilkan kebudayaan yang beragam pula. Salah
satu wujud itu adalah kesenian, baik seni sastra, seni tari, seni musik, seni
drama, seni rupa dan sebagainya.
Manfaat Keberagaman
Budaya
Keberagaman budaya
memberikan manfaat bagi bangsa kita. Dalam bidang bahasa, kebudayaan daerah
yang berwujud dalam bahasa daerah dapat memperkaya perbedaharaan istilah dalam
bahasa Indonesia. Sementara itu, dalam bidang pariwisata, potensi keberagaman
budaya dapat dijadikan objek dan tujuan pariwisata di Indonesia yang bisa
mendatangkan devisa. Pemikiran yang timbul dari sumber daya manusia di
masing-masing daerah dapat pula dijadikan acuan bagi pembangunan nasional.
Masalah Akibat
Keberagaman Budaya
Mengatur dan mengurus
sejumlah orang yang sama ciri-ciri, kehendak, dan adat istiadatnya tentunya
lebih mudah daripada mengurus sejumlah orang yang semuanya berbeda-beda
mengenai hal-hal tersebut.
Gagasan yang menarik
untuk diangkat mengatasi/ mengikis kesalahpahaman dan membangun benteng saling
pengertian adalah dengan multikulturalisme dan sikap toleransi serta empati.
1)
Multikulturalisme
Multikulturalisme adalah
istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam
kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang
penerimaan terhadap realitas keragaman, dan berbagai macam budaya
(multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai,
sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut.
Didalam
multikulturalisme masyarakat diminta untuk melihat dan menyikapi perbedaan,
multikulturalisme juga mengajak masyarakat untuk melihat keragaman budaya dalam
kacamata kesederajatan maksudnya tidak ada budaya yang lebih tinggi daripada
budaya lain. Didalam multikulturalisme juga tidak boleh ada diskriminasi
terhadap suatu komunitas suku bangsa tertentu karena hal itu akan menjadi benih
perpecahan dan konflik. Semua suku bangsa harus diperlakukan sama dan
dilibatkan dalam berbagai aspek kebangsaan baik sosial, politik, hukum, maupun
pertahanan dan keamanan. Hanya dengan cara demikian seluruh potensi suku bangsa
akan bahu-membahu membangun perdapan bangsanya yang lebih baik.
2)
Toleransi dan empati
Sikap toleransi
berarti sikap yang rela menerima dan menghargai perbedaan dengan orang atau
kelompok lain.
Empati adalah sikap
yang secara ikhlas mau merasakan pikiran dan perasaan orang lain.
Sikap toleran dan empati
ini sangat penting ditumbuhkembangkan dalam kehidupan masyarakat yang majemuk
seperti di Indonesia.
Cara pikir seperti
ini akan membawa kita pada sikap dan tindakan untuk tidak memperuncing
perbedaan, tetapi mencari nilai-nilai universal yang dapat mempersatukan.
Integrasi Nasional
Integrasi artinya
pembauran hingga menjadi satu kesatuan yang utuh atau bulat. Integrasi bisa
terjadi secara horisontal dengan pihak yang sederajat, ataupun secara vertikal.
Pendapat para ahli
mengenai integrasi nasional:
1.
Higgins
Memahami integrasi
nasional dengan melihat proses penyatuan kelompok budaya dan sosial pada satu
kesatuan wilayah dan identitas nasional.
2.
Dr. Nazaruddin Sjamsuddin
Proses penyatuan
suatu bangsa yang mencakup semua aspek kehidupannya, yaitu aspek sosial,
politik, ekonomi dan budaya.
3.
J. Soedjati Djiwandono
Cara bagaimana
kelestarian persatuan nasional dalam arti luas dapat didamaikan dengan hak
menentukan nasib sendiri. Hak tersebut perlu dibatasi pada suatu taraf
tertentu. Bila tidak, persatuan nasional akan dibahayakan.
Faktor-faktor yang
memengaruhi integrasi nasional:
1.
Homogenitas kelompok
Pada kelompok yang
kecil biasanya tingkat kemajemukannya juga relatif kecil, sehingga akan
mempercepat proses integrasi nasional.
2.
Mobilitas geografis
Faktor geografis
memengaruhi efektifitas dan efesiensi komunikasi. Komunikasi yang berlangsung
di dalam masyarakat akan mempercepat integrasi nasional.
Kata kunci dalam
mencapai integrasi nasional adalah dengan menjaga keselarasan antarbudaya.
Peranan pemerintah
1.
Pemerintah harus mampu melaksanakan sebuah sistem politik nasional yang dapat
mengakomodasikan aspirasi masyarakat yang memiliki kebudayaan yang
berbeda-beda.
2.
Kemampuan desentralisasi pemerintah yang diwujudkan dalam agenda otonomi
daerah.
3.
Keterbukaan dan demokratisasi yang bertumpu pada kesamaan hak dan kewajiban
warga negara.
Peranan masyarakat
1.
Meminimalkan perbedaan yang ada dan berpijak pada kesamaan-kesamaan yang
dimiliki oleh setiap budaya daerah.
2.
Meminimalkan setiap potensi konflik yang ada.
Home

Tidak ada komentar:
Posting Komentar